Rabu, 12 April 2017

Mau Wirausaha? Langsung Action Kayak Orang Goblok Aja!


Sudah lama banget aku baca dan bikin ringkasan buku yang berjudul "Belajar Goblok dari bob Sadino"
Tapi nyatanya, baru kali ini aku benar-benar paham esensinya. Mungkin saat ini belum sepenuhnya paham juga, karena pasca membaca buku itu kemudian resign dari perusahaan, aku merasa menjadi 'goblok' sehingga perlu banyak belajar di kehidupan. Oh ya, aku resign bukan gara-gara baca buku ini ya, emang nasibnya aja kudu resign dan kuliah lagi, hehe...

Semenjak resign dan kehidupanku menjadi 'dinamis'. Aku justru jadi makin percaya bahwa rezeki Allah itu maha luas. Gagal di bisnis online shop, ternyata aku ada hoki di dunia blogging. Gagal menjadi dosen UGM, tapi sempat bantuin beberapa dosen UGM dengan latar belakang proyek yang bermacam-macam.

Saat memutuskan kembali ke Sumatera, aku nggak banyak ekspektasi. Aku cuma berharap bisa sesekali ikut acara blogger Palembang. Alhamdulillah ada tawaran pekerjaan yang sekaligus memungkinkanku membawa Ais ke tempat kerja. Kebetulan beberapa kali ada acara blogger juga memungkinkanku membawa anak. Ternyata kembali ke Palembang membawa berkah buatku dan anakku. Aku jadi semakin dekat dengan anak semata wayangku, dan anakku sendiri bisa banyak belajar hal baru bersama ibunya.

Esensi 'goblok' dari suami

Suami saat ini sedang berjuang membangun bisnisnya. Menurutku dia lebih menerapkan prinsip goblok daripada aku. Di saat aku ragu memulai suatu bisnis, suami sudah nggak berpikir apa pun selain action untuk bisnis itu. Ada satu bisnis yang kekeuh dijalani suami, yaitu online shop benih tanaman. Awalnya aku malas membantu karena kupikir sia-sia saja nantinya. Emang kita bisa apa kok buka online shop pertanian? Ntar pembelinya dari mana, wong tempo hari aku coba bisnis online shop baju aja sepi pembeli. Aku masih dengan egoku bertahan bahwa mengembangkan blog atau sosmed itu jauh lebih worthed dibanding memulai bisnis online yang tempo hari gagal kujalani itu. Tetapi, egoku itu mulai luntur manakala aku mendapati DA blogku turun, kunjungan ke blog maupun youtube minim, kegiatan buzzer juga sudah jarang. Daripada frustasi mikirin ini, aku mulai bantu suami input produk ke ecommerce. Ternyata pesanan datang dari produk yang baru kuupload sejam yang lalu! Weh, menarik juga ternyata jualan online begini. Ketakutanku kalau nanti costumer complain ini dan itu ternyata nggak kejadian. Kekhawatiranku kalau barangnya nggak laku karena harga yang kami patok nggak bisa semurah pedagang besar juga tidak terbukti. Walaupun pesanan belum banyak, tapi aku yakin ibaratnya bayi yang baru belajar berjalan, suatu saat, bayi ini bisa berlari juga.

Banyak mimpi dan target yang ingin kucapai, tapi aku yakin rencana Allah yang paling indah. Yang penting keep trying n believing. Tetaplah merasa goblok, seperti kata Bob Sadino. Karena kita merasa goblok, kita bagaikan gelas kosong yang siap diisi air lebih banyak. Langsung action saja, masalah dipikir kalau sudah kejadian beneran. Bismillah.

Kamis, 06 April 2017

Kelas Akber Palembang "Why Should Invest in Capital Market?"


Sebelum mulai bahas materi tentang kelas Akademi Berbagi (Akber) Palembang kali ini, udah pada tahu belum sama program "Yuk Nabung Saham" yang diprakarsai IDX Indonesia? Jadi, untuk memasyarakatkan budaya investasi di Indonesia, IDX (Indonesian Stock Exchange) mensosialisasikan program "Yuk Nabung Saham". Nah, supaya orang tertarik buat "nabung" saham, orang harus tahu dulu dong, manfaat dari nabung saham itu apa?

Baca: edukasi saham sejak dini

Tema Akber kali ini sejalan dengan sosialisasi Yuk Nabung Saham ini. Why should invest in capital market? Emang untungnya apa sih? Untungnya jelas banyak cyyn. Tahu nggak kenapa? Soalnya pasar modal di Indonesia itu sedang bertumbuh pesat. Lihat data ini kalau nggak percaya. Dibanding bursa di seluruh dunia, kita paling kece bro!

Kelas Akber tentang pasar modal kali ini dibawakan oleh Bapak Hari Mulyono, Head of Representatif IDX Palembang. Acara berlangsung santai dan menyenangkan. Soalnya, ngomongin duit kan memang menyenangkan, ya kan ya sih? Selain itu, Pak Hari juga menyampaikan materi yang gampang dimengerti orang awam. Kayaknya sih, habis ikutan kelas ini, banyak yang terus buka rekening efek deh. Soalnya selesai acara banyak yang tanya-tanya cara buka rekening efek. Asyiknya di kantor IDX Palembang ini, di lantai bawah sudah ada beberapa sekuritas yang stand by, jadi harusnya para dedek emesh yang mau nabung saham nggak perlu bingung gimana mau memulai nabung saham. Atau baca postingan kakak tentang bagaimana membeli saham. Langkah awal yaitu, Memilih Sekuritas yang Tepat untuk Membuka Rekening Efek.
Bapak Hari Mulyono

Pada kelas kali ini, Pak Hari melakukan studi kasus tentang emiten SMBR alias Semen Baturaja. Dikatakan Pak Hari, pada tahun 2013 SMBR baru saja listing di bursa. Saat itu bisnisnya belum cakep seperti sekarang. Setelah listing di bursa dan meraup banyak modal dari investor, mulailah SMBR melakukan ekspansi usaha dan akhirnya berdampak pada harga lembaran saham SMBR. Menurut data yang kuunduh di RTI, harga saham SMBR di pertengahan 2015 sempat menembus sekitar 250, eh nggak sampai dua tahun sahamnya bisa melejit di 3500. Amazing kan? Nggak semua saham bisa begini sih, tapi kalau kita jeli, bisa juga kok nemu yang model begini. Keep learning and investing aja deh.*sambil afirmasi diri sendiri.

Sayangnya, pasar modal Indonesia yang kece begitu banyak dinikmati asing saja. Soalnya banyak masyarakat Indonesia yang beranggapan kalau pasar modal itu judi. Padahal logikanya ya, kita memberi modal kepada perusahaan berupa pembelian lembaran saham. Dana tersebut diputar perusahaan untuk kegiatan bisnisnya. Bisnisnya bertumbuh, kemudian ada pembagian deviden. Fair kan? Sangat sesuai dengan prinsip Syariah pula. Nggak ada gamblingnya, karena yang bikin gambling itu pelaku pasarnya sendiri. Pelaku pasar yang malas mencari tahu emiten yang akan dibelinya. Yang cuma ikutan arus dalam membeli saham. Yang model begini yang bikin orang takut nyemplung di pasar modal. Padahal saat ini akses informasi mengenai semua emiten di bursa Indonesia, lengkap tersaji di website idx.co.id, tinggal kita mau aktif cari tahu atau tidak?
Suasana kelas. Nyaman.

Idealnya, pasar modal Indonesia seharusnya apple to apple dengan GDPnya. Dengan demikian negara Indonesia bisa maju dan minim korup. Soalnya yang bikin orang korup itu karena kurangnya penghasilan, ya kan?(normalnya sih begitu, kalau memang udah tuman sih beda cerita), nah pasar modal sebenarnya menjanjikan penghasilan tambahan loh. Halal pula. Di Singapura kenapa negaranya maju, ya karena GDP sama pasar modalnya sebanding, apple to apple.

Di Indonesia sendiri, masalah inflasi bukan karena nilai tukar rupiah atau perekonomian dunia. Indonesia tidak terlalu terpengaruh itu. Inflasi di Indonesia, menurut Budiono, terjadi karena masalah distribusi. Biaya distribusi masih membengkak, akibat infrastruktur yang kurang memadai. Jadi, solusi Jokowi saat ini untuk perbaikan infrastruktur di seluruh Indonesia sangatlah tepat ya. Moga-moga bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untu memaslahatan umat ya..

Di sesi tanya jawab, aku melemparkan pertanyaan mengenai cut loss untuk seorang investor. Begini jawaban dari Pak Hari.

Ada beda prinsip trader dan investor. Trader menganggap saham tak lebih dr selembar kertas. Sedangkan investor fokus dengan value saham tersebut. Jadi,selama value perusahaan tidak berubah, buat apa cut loss?

Sebagai investor, ada tips memilih saham dari Pak Hari:

1. Pilihlah saham yang undervalued. Yaitu saham dengan nilai saham lebih rendah dari nilai asset.

2. Pilih saham dengan core bisnis consumer. Bisnis seperti ini cenderung tahan banting pada suasana ekonomi apapun. Soalnya kebutuhan pokok manusia kan.

3. Perhatikan laporan keuangan perusahan.

4. Fokus pada max 4 saham. Ini prinsip dari costumer Pak Hari, yang konsisten profit karena setia pada 4 emiten saja.

Oh ya, sebenarnya pasar modal nggak cuma saham saja. Masih ada produk pasar modal lain seperti obligasi, sukuk, ETF, pasar uang, dll. Tapi buat anak muda yang dinamis seperti kita-kita ini (sok-sokan seumur sama dedek emesh di belakang), lebih worthed untuk investasi saham. Soalnya timeframenya kan untuk jangka panjang.

Sekali lagi, keep learning and investing. Yeay!

Rabu, 05 April 2017

Edukasi Pasar Modal Sejak Dini

Sampai di kantor IDX Palembang, yeay!
Melanjutkan Saturdate siang ini sama anak lanang. Kalau tadi temanya senang-senang dan liburan, kalau yang ini temanya agak mikir, tapi asyik buat dipikir. Soalnya mikir duit, siapa sih yang nggak suka mikir (punya) duit?

Sebagai emak yang concern sama investasi, aku nggak bakalan mau ketinggalan sama event Akademi Berbagi kali ini yang mengangkat tema "Why Should Invest in Capital Market?". Sebagai investor (wanna be) sejak Mei 2016, alias seumur dengan blog ini, wakakakakak, aku menyadari pentingnya berinvestasi sedini mungkin di pasar modal. Ternyata, gemar menabung saja tidak cukup, karena menabung saja akan membuat uang kita tergerus inflasi. Dengan berinvestasi di pasar modal, maka uang yang kita miliki bisa menjadi produktif, tanpa kita harus mumet membuka usaha. Walaupun sebenarnya, keinginan terbesarku ikutan kelas akademi berbagi kali ini adalah karena penasaran pengen lihat kantor IDX Palembang *dasarnorak. Habis kalau lewat di depan kantornya IDX Palembang ini aku selalu membatin, "kapan ya diundang acara disana, pengen deh punya jaringan investor di Palembang." JEBRET. Allah kabulkan doa itu. Dan bertemulah aku dengan para investor dan calon investor muda di acara ini.

Investor muda di kelas Akber

Aku datang terlambat tapi untungnya Pak Hari Mulyono baru saja memulai slide pembukanya. Aku langsung memilih kursi paling depan, supaya nanti enak foto materinya. Wkwkwk. Sampai lupa kalau aku bawa anak kecil. Kalau doi ribut pegimane yak? Alhamdulillah Ais anteng dengan tabletnya.

Investor termuda lagi merancang 'bisnis properti lego'

Tapi sempat beberapa kali minta keluar buat ke kamar kecil. Terus sekalian tak ajak sholat ashar sekalian saja. Pas sholat doi malah kerasin bacaan sholatnya. Mau nggak mau si emak ikutan kerasin bacaannya, buat benerin beberapa bacaan sholat yang masih salah.

Habis sholat kami lalu mengeksplor kantor IDX. Pada layar TV disiarkan acara di saluran TV IDX, pelan-pelan aku kasih tau Ais, "Besok tempat Uti  nontonnya acara ini aja ya?" *emak cari bolo *Ais cuma jawab dengan ekspresi begini...


Di lantai 2, terdapat banner besar dengan tulisan "Yuk Nabung Saham", langsung aku minta Ais buat foto disana. Biar nanti kalau sudah besar Ais bisa lihat, ini lo emakmu udah ngenalin saham dari kamu piyik, wkwkwk.


Jadi, kalau orang tua dulu mengajarkan kita untuk menabung, saat ini, prinsip hidup hidup hemat dan menyisihkan pendapatan tetap menjadi budaya yang harus dipertahankan, tapi, menyisihkan pendapatan tak cukup hanya ditabung, akan lebih bijak jika diinvestasikan. Sambil tak lupa investasi kepada Allah SWT alias sedekah ya. Kedepannya, bila ada kesempatan acara tentang investasi seperti ini, aku pengen bisa ajak Ais lagi. Aku pengen Ais "melek duit" dengan benar. Jadi bukan melek duit buat jajan, tapi melek duit buat usaha dan investasi.

Ngomong-ngomong jajan, sebenarnya investasi di pasar modal itu seperti belanja di marketplace loh. Kita bisa memilih berbagai produk investasi sesuai profil resiko kita. Atau kalau mau investasi saham, kita bisa pilih sekitar lebih dari lima ratus emiten. Hanya saja "katalog"nya perlu diperhatikan benar. Baca prospektus keuangan masing-masing produk investasi dengan seksama agar kita tidak merasa dirugikan di kemudian hari.

Oh ya, khusus untuk saham, pergerakannya itu sangat dinamis. Jadi, sebaiknya targetkan saham untuk investasi jangka panjang, karena kalau untuk jangka pendek, fluktuasinya cukup tinggi. Tips untuk investasi saham, jangan panikan. Kalau harga saham kita turun, itu berarti kesempatan membeli kembali dengan harga diskon. Makanya, sebelum memutuskan membeli satu emiten saham, teliti dengan pasti perusahaannya, bagaimana laporan keuangan dan prospek bisnisnya. Pilih maksimal 4 saham saja, nggak usah terpengaruh dengan bisikan-bisikan di luar. Pak  Hari mencontohkan salah satu kliennya yang sukses berinvestasi saham karena fokus pada 4 emiten saja. Kalau 4 saja cukup, ngapain "piknik" cari saham lain?

Pilih saham yang mana?

Jadi, pilih saham apa hari ini? Keep learning and investing ^_^

Materi kelas akademi berbagi kali ini di postingan terpisah ya. Biar fokus ke materi presentasi.

"Why Should Invest in Capital Market?"




Senin, 27 Maret 2017

Dilema Rumah Baru vs Rumah Bekas



Ini bukan artikel placement ya, ini murni pengalamanku dan suami memilih rumah untuk tempat tinggal kami di Palembang sekaligus untuk investasi di hari tua nanti.

Lokasi

Prinsip utama suami dalam memilih rumah adalah lokasi. Keadaan bangunan nomor dua, karena yang penting dalam investasi properti adalah pada lokasi. Semakin bagus lokasinya, maka semakin cepat harga tanahnya meningkat. Itu yang diharapkan dalam sebuah investasi, ya kan?

Dalam memilih lokasi, yang penting untuk diperhatikan adalah kondisi lingkungannya. Aman nggak lingkungannya? Jangan sampai salah pilih lokasi yang rawan pencurian dan kejahatan. Mau semurah apa pun harga yang ditawarkan, nggak usah deh. Lokasi yang kayak begini bakalan susah naik harganya. Boro-boro naik, jangan-jangan dijual pun nggak ada yang mau beli. Rugi kan?

Pertimbangan selanjutnya adalah bagaimana keadaan anak-anak disana? Soalnya anak-anak ini yang akan jadi teman main anak kita. Sebisa mungkin cari lokasi yang lingkungannya 'sekufu' dengan kita. Jadi bisa klop dengan tetangga. Stres juga lo kalau nggak bisa kompak dengan tetangga. Secara tetangga bakal jadi orang terdekat kita.

Setelah masalah keamanan dan keharmonisan dengan tetangga, kemudahan mobilisasi ke tempat kerja juga harus diperhatikan. Okelah, tempat kerja terlalu mainstream, ke tempat usaha deh (eeaa). Makin dekat lokasi tinggal dengan tempat usaha, berarti makin efisien biaya operasional. Lebih mudah memantaunya juga pastinya.

Dari beberapa pertimbangan itu, pilihan kami mengerucut pada lokasi rumah di sekitar Talang Kelapa. Beberapa pertimbangan memilih lokasi disana, antara lain:

1. Lokasinya dekat dengan tempat kerja. Jadi efisien di ongkos nantinya.

2. Talang Kelapa adalah daerah yang sedang berkembang. Secara harga sudah agak mahal, tetapi masih worthed untuk investasi.

3. Banyak pilihan perumahan, dari yang elit, biasa, sampai yang masih perkampungan. Dari yang masih tahap pembangunan, sudah siap huni, rumah bekas yang masih harus direnov, sampai rumah bekas yang sudah siap ditempati.

4. Mulai banyak pilihan seolah yang bagus untuk anak di daerah Talang Kelapa.

5. Dekat dengan jalur busway. Jadi kalau mau ke kota gampang aksesnya. (Ini sih hobiku sama Ais, ngebolang murah, haha)

Nah, poin ketiga ini ternyata sempat membuat kami berselisih paham. Di satu sisi aku pengennya cari rumah bekas yang siap ditinggali saja, sedangkan suami pengennya cari rumah baru yang pasti kualitas materialnya dan memungkinkan dimodif. Kebetulan rumah incaranku bangunannya sudah dari 2004 dan kualitas materialnya masih standar. Terus dari perselisihan kami, keluarlah plus minus rumah bekas vs rumah baru.

Rumah bekas

Plus:
1. Biasanya rumah sudah siap huni, dan kalau pun harus renov, pastikan tidak terlalu banyak renovnya.

2. Kalau ada apa-apa, kita bisa curhat sama pemilik rumah lama. Tipsnya sih, cari penjual rumah yang asyik, pastinya doi jual rumahnya sendiri, bukan perantara apalagi agen lelang rumah. Xixixi

3. Harganya lebih miring dan kalau beruntung dapat penjual yang butuh duit, bisa tuh dapat rumah bekas yang bagus dengan harga murah.

Minus:
1. Namanya bekas, kondisi rumah pastinya nggak sekece rumah baru. Perlu persiapan dana darurat untuk perbaikan rumah. Nah, pinter-pinter milih rumah bekas yang bagus deh kalo ini.

2. Siapkan biaya PPh 5%, BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) 5% setelah dikurangi NPTKP ( Nilai Jual Objek Tidak Kena Pajak), PPN, Biaya Balik Nama, dan biaya notaris. Biaya ini sih kesepakatan dengan penjual, tapi ada baiknya untuk dipersiapkan semua.

3. Tidak leluasa lagi untuk modifikasi.
Untuk kasus rumah bekas idamanku, bentuk bangunan sudah susah untuk direkayasa. Kalau buatku yang malesan ini sih nggak masalah. Tapi buat suami yang pengen modif-modif rumah, hal ini jadi bermasalah.


Rumah baru

Plus:
1. Bangunan baru, jadi dijamin masih prima kondisi rumah saat ditinggali nanti.

2. Lebih leluasa memilih lokasi karena biasanya developer memiliki banyak pilihan lokasi.

3. Masih memungkinkan untuk modifikasi bangunan. Tapi nggak bisa leluasa juga, soalnya rata-rata sedia tanahnya mepet.

Minus:
1. Harga pasti lebih mahal. Soalnya kita bayar developer juga kan.

2. Belum tentu langsung punya tetangga. Namanya perumahan baru biasanya masih sepi. Jadi agak krik2 juga kalau kanan kiri masih kosong. Enaknya sih mungkin syukurannya nanti bisa hemat, la tetangganya dikit. Hahaha.

3. Kalau ada apa-apa, bisanya curhat sama developer doang. Ya iya kalo developernya sibuk, nggak bakal ditanggepi deh. Apalagi kalau masalahnya soal kondisi rumah, term conditionnya biasanya tidak memungkinkan kita bisa banyak komplain.

Endingnya, kita harus pilih rumah yang mana nih ya?

Rabu, 15 Maret 2017

[wiRABUsaha] Distributor vs Ritel

Wirabusaha is coming again!

Gak kerasa udah sebulan blog ini gak update #eh. Kalo nggak gara-gara kolaborasi sama Manda di saudagarsaham.id, mungkin blog ini bakal bulukan deh. Soalnya, sesuai rencana awal bikin domain investasiemak.com, pengennya sih banyak bahas tentang investasi dan usaha buat emak-emak. Tapi berhubung daku newbie di dunia usaha maupun investasi, jadi asal mau nulis pasti kena penyakit bingung mau mulai dan takut salah tulis. Akhirnya ya nggak jadi nulis-nulis ya, hihi.

Untungnya sih ada rubrik kolaborasi kayak gini. Masih tiap bulan dulu. Belum kuat soalnya kalau harus tiap minggu, karena membahas usaha dan investasi cukup 'berat' buatku.

Nah, setelah diskusi via WA dengan Manda. Kami putuskan bahwa tema bulan ini adalah. Jeng. Jeng. Jeng.

Distributor vs Ritel


Kenapa kita mengangkat tema itu? Ya karena kita berdua mengalami dua hal itu. Manda bergelut di usaha ritel toko kelontong, dan aku sendiri bantu suami sebagai distributor obat tanaman. Dari segi produk sih nggak berhubungan ya. Tapi dari sisi kegiatan usaha, kami ini saling berhubungan lho. Soalnya Manda pasti butuh barang dari distributor untuk didisplay di tokonya. Dan aku sendiri butuh ritel untuk membantu memasarkan barangku.

Baca tentang menjadi pengusaha ritel ala Manda: Serunya Menjalankan Bisnis Ritel

Nah kalau bagianku, tentang pengalaman menjadi (istri) ditributor nih. Hehehehe

Apa dan bagaimana menjadi distributor?

Jadi kalau dibuat skema, produk dari perusahaan itu akan melewati rantai distribusi sebagai berikut:

Perusahaan/Pabrik
 |
Distributor
|
Ritel/toko 
|
Konsumen

Nah, distributor sendiri ada distributor besar, distributor kecil, dan distributor yang merangkap ritel. Enaknya jadi distributor, kita nggak perlu lokasi strategis untuk memasarkan produk. Tapi, kita harus punya ruangan yang cukup untuk gudang penyimpanan sementara produk dari pabrik ke ritel. Nah, modal apa sih yang harus dipunya untuk menjadi distributor?

1. Koneksi
Menjadi distributor itu yang utama adalah memiliki koneksi. Ya iyalah, soalnya kan kita penghubung antara perusahaan dan ritel yang akan memasarkan produk. Nggak sembarang orang bisa jadi distributor.

2. Badan hukum minimal CV
Karena dengan menjadi distributor kita akan berurusan dengan perpajakan dan berbagai macam surat menyurat, maka untuk menjadi distributor resmi memerlukan badan hukum minimal CV.

3. Gudang yang memadai
Sebagai distributor, kita akan memerlukan pemesanan produk ke pabrik dalam jumlah besar (supaya dapat harga murah, margin keuntungan lebih besar). Tapi, seringkali produk tersebut tidak langsung disetorkan kepada ritel, ya kan? Oleh karena itu, kita perlu gudang yang memadai untuk menyimpan produk yang belum didistribusikan.

4. Armada yang mumpuni
Namanya juga distributor, tugasnya ya mendistribusi produk. Tentu perlu armada yang mumpuni untuk mendistribusi produk. Minimal mobil pick up lah. Dulu sih awalnya aku kira pakai mobil minibus cukup, ternyata kalau cuma minibus ngga cocok costnya, soalnya mobil biasa kapasitasnya kan terbatas.

5. Mental yang kuat
Ini sih mental yang harus dipunyai semua pengusaha. Dalam proses menawarkan produk ke toko/ritel pasti ada saja penolakannya. Belum lagi kadang ada pungli di jalan (sekarang sudah jarang sih). Fisik juga harus kuat. Karena tak jarang kita harus bongkar muat barang sendiri. Kalau untuk yang satu ini sih suami nggak izinin aku ikutan angkat-angkat. Suruh madep laptop ngurusin admin aja katanya. Hihi

Nah, berhubung kolab kali ini tentang Ritel vs Distributor, jadi dari kacamata distributor, daku punya beberapa harapan yang semoga dimiliki setiap ritelku, hihihi..

1. Ritel yang pembayarannya lancar

UUD, ujung-ujungnya duit. Tentu sebagai distributor berharap setiap ritel tertib melakukan pembayaran. Soalnya para distrubutor juga dikejar kredit pelunasan produk sampai 45 hari kerja saja. Kalau pembayarannya nunggak, bayar tunggakan ke pabriknya gimana? *melas.

2. Ritel yang ramai, jadi barangnya cepat habis

Setiap ritel pasti berharap begini juga dong ya. Tokonya laris manis, perputaran produk dan uang jadi lancar. Kalau ada ritel yang begini, dijamin jadi rebutan para distributor deh.

3. Ritel yang bersahabat

Okelah nggak semua ritel bisa lancar pembayarannya, karena penjualan produk juga kadang tidak bisa diprediksi. Tapi paling nggak, jadilah ritel yang bersahabat dan kooperatif. Ketika sudah waktunya tagihan ternyata produk belum laku juga, ya jujur saja bilang ke distributornya. Mau kasih tenggat waktu lagi, atau produk ditarik saja? Jangan bayarannya digantungin, tapi produk nggak juga dikembalikan. Kalau expired kan distributor juga yang menanggung resikonya.

Kayaknya tiga poin itu dulu aja deh ya? Toh kami sebagai distributor juga tidak sempurna, yes?

Any question so far, boleh banget dikomen yaaa..

Jumat, 03 Maret 2017

Pengalaman Memesan Sukuk Ritel SR-009

Sukuk Ritel is back! Seri SR-009


Rasanya nggak nyangka akhirnya bisa pesan sukuk ritel juga. Soalnya dulu masih zaman SR-005 sempat pengen ikutan tapi nggak dapat jatah. Karena dulu agen penjual Sukuk cuma Bank Syariah. Lah daku cuma punya the only one rekening tabungan bank konvensional yang saat itu dipake buat transfer gaji (dan perusahaan tidak memperkenankan bank lain), ya sudah.

Sekarang, investasi berbasis syariah sudah lebih masif. Jujur saja aku lebih mantap berinvestasi di Sukuk ketimbang duitnya didepositokan. Walaupun jangka waktu Sukuk lebih lama, tapi toh memang 'uang dingin' yang aku pakai. Jadi begitu ada info tentang penawaan Sukuk Ritel SR-009 ini, aku langsung semangat pengen pesan.

Saking semangatnya, sebelum masuk masa penawaran, aku sudah tanya-tanya ke bank. Asyiknya, bank dimana satu-satunya rekeningku berada (ecie) ternyata jadi agen penjual Sukuk ini. Kebetulan saat itu aku sedang bermasalah dengan ATM tertelan, jadi sekalian tanya-tanya ke CS tentang Sukuk Ritel SR-009 deh.

Ternyata, walau belum masuk masa penawaran, aku sudah bisa pesan lho. Si Mbak CS menawarkanku untuk isi form pemesanan serta memintaku menunjukkan KTP, buku tabungan, dan NPWP. KTP sama buku tabungan si oke, wong habis ngurus ATM, tapi NPWP nggak kubawa. Habisnya trauma kemarin sempet ilang dompet terus nambah-nambahi kerjaan aja kudu urus kartu NPWP ke kantor pajak (padahal ngurus NPWP ke kantor pajak paling gampang, pelayanan cepat dan tentu saja gratis). Back to syarat pemesanan SR-009, jangan lupa ya dipersiapkan KTP, buku tabungan, dan NPWPnya. Disarankan sih ke bank yang kita sudah punya rekeningnya, jadi nggak perlu ribet buka tabungan atau buat dokumen surat berharga.

Apa sih menariknya ikutan Sukuk Ritel SR-009?

Kalau menurutku pribadi, sukuk jelas sangat menarik dibanding deposito. Soalnya imbal hasil lebih tinggi. Jadi kalau rata-rata bunga deposito adalah 6.2% (data dari pusatdata.kontan.co.id), nah Sukuk Ritel SR-009 ini kalau imbal hasilnya dikonversikan menjadi bunga, maka sekitar 6.9%. Selain potongan pajaknya lebih rendah. Kalau deposito dikenakan pajak 20%, maka imbal hasil Sukuk hanya dikenakan 15%.

Kalau pertimbangan utamaku  pilih sukuk sih karena nggak riba. Imbal hasilnya bukan berupa bunga melainkan bagi hasil. Dan disisi lain, sukuk menawarkan kepastian imbal hasil karena dijamin negara. Beda sama investasi reksadana atau saham yang kadang harus deg-degan dengan fluktuasinya.

Bagaiman mekanisme pemesanan Sukuk Ritel SR-009?

1. Datang ke agen penjual yang ditunjuk Kemenkeu berikut ini:

PT Bank Mandiri (Persero), Tbk
PT Bank Danamon Indonesia, Tbk
Citibank N.A.
PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk
PT Bank ANZ Indonesia
PT Bank DBS Indonesia
PT Bank Permata, Tbk
PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk
PT Bank Mega, Tbk
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk
Standard Chartered Bank
PT Bank Pan Indonesia, Tbk
PT Bank OCBC NISP, Tbk
PT Bank CIMB Niaga, Tbk
PT Bank Central Asia, Tbk
PT Bank Maybank Indonesia, Tbk
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk
PT Bank Commonwealth
PT Bank Syariah Mandiri
PT Trimegah Sekuritas Indonesia, Tbk
The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd
PT Bank BRISyariah

Waktu pemesanan adalah dari tanggal 27 Februari sampai 17 Maret 2017.

2. Isi form pemesanan dan menunjukkan buku tabungan, KTP, dan NPWP yang masih berlaku.

3. Tunggu penjatahan di tanggal 20 Maret 2017. Kalau tidak dapat jatah maka uang akan dikembalikan maksimal 3 hari kerja yerhitung sejak tanggal 23 Maret 2017.

4. Menerima imbal hasil perdana pada 10 April 2017. Hore!

Yang perlu diketahui tentang SR-008:
1. Masa jatuh tempo adalah 3 tahun, yaitu pada 10 Maret 2017. Jadi kalau kira-kira duitnya bakal kepake sebelum 3 tahun, mending dipikirkan dulu deh keikutsertaannya.

2. Berbeda dengan ST-001 yang tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder (macam jual beli saham gitu), SR-009 seperti Sukuk Ritel pendahulunya, yaitu bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Tapi ada resiko nilainya menurun di pasar sekunder. Amannya ya investasi full selama 3 tahun itu (kalau untuk tipe investor yang risk avoider). Kalau pas jatuh tempo, nilai kuponnya tetap seperti awal pembelian.

3. Satu kupon SR-009 adalah 5 juta rupiah. Nggak usah malu kalau cuma sanggupnya 1 kupon saja. (La yang bikin tulisan ini juga cuma pesan dikit, gaya banget terus bikin tulisan yak? Haha). Paling nggak sekalian nyicip investasi yang syariah dan aman, ya kan?

4. Penawaran SR-009 terbatas hanya sampai 17 Maret 2017 (Di Bank Mandiri malah cuma sampai tanggal 14 Maret). Jadi, nggak usah pakai mikir lama buat pesan SR-009 kalau punya duit nganggur. Daripada duitnya kepakai untuk konsumsi yang nggak jelas, ya kan? Soalnya buibu kan suka kalap kalau lihat saldo masih tebal, hihi.

Yuk mulai investasi, karena emak bijak sadar investasi. ^_^

Selasa, 07 Februari 2017

[wiRABUsaha] Usaha dan Investasi untuk Emak itu PERLU!

Mulai bulan Februari ini, investasiemak bakalan ada rubrik #wiRABUsaha bekerja sama dengan manda di saudagarsaham.id. Isinya sih nggak jauh-jauh dari seputar usaha dan investasi untuk ibu rumah tangga.

Tema minggu ini adalah pentingnya ibu rumah tangga harus punya usaha dan investasi. Bukan buat gegayaan. Tapi memang beneran PERLU! *capslock jebol dah...

Yang ini bahasan Manda tentang Usaha dan Investasi:

#wiRABUsaha: Usaha dan Investasi ala Manda

Nah, di bawah ini aku pengen cerita, kenapa sih emak-emak itu perlu usaha dan investasi?

Emak-emak itu harus produktif

Pengalaman pribadiku nih, semenjak resign dari kerjaan, terus kuliah lagi, terus sampai sekarang masih job seeker aja, aku jadi berpikir lebih keras untuk mendapatkan tambahan. Ternyata dunia udah nggak seindah zaman dulu masih kerja kantoran, hihi. Cari kerjaan sekarang lebih susah plus kebutuhan hidup lebih banyak.
Kan udah punya suami, gampang lah, tinggal minta duit aja sama suami kan?
Iya sih, dengan berkeluarga kita bisa menggantungkan hidup pada suami. Tapi kasian atuh Pak Suami kalau semua istri mikirnya begini. Soalnya, dengan kondisi perekonomian yang fluktuatif seperti sekarang, cari duit memang kudu getol kuadrat. Kan kasian kalo suami nggak dibantuin cari duit? Memang sih, cari uang bukan kewajiban kita sebagai emak-emak. Tapi paling nggak kita harus jadi emak yang produktif. Biar nggak senewen en spanneng. Dapat tambahan uang itu bonus.

Be productive, be positive!

Dengan berpikir untuk produktif, kita dapat meminimalisir rasa cemburu sama suami. Iya rasa cemburu. Aku pernah punya tetangga yang bercerai gara-gara istrinya cemburuan sama suaminya. Usut punya usut, ternyata si istri kebanyakan nonton sinetron dan infotainment. Ditambah suaminya kerja di rumah produksi. Ketika suami pulang terlambat atau harus dinas di luar kota, si istri uring-uringan nggak jelas. Semua nasehat dari para tetangga nggak digubris. Akhirnya, kandaslah rumah tangga mereka karena kecemburuan berlebihan si istri.

Tragis ya? Padahal kalau si istri mau berpikiran positif dan berusaha mengoptimalkan potensinya, entah potensi memasak, menjahit, atau kalau sekarang yang lagi happening, yaitu ngeblog dan menulis, pasti hasilnya akan berbeda. Kelihatannya sih kesibukan seperti itu terlihat sepele, tapi dengan menyibukkan pikiran dengan hobi, maka nggak ada lagi tuh pikiran ngganggur cuma buat mikirin, suamiku sekarang lagi sama siapa? Beneran kerja atau selingkuh?

Nah, kalau kita sebagai istri hepi, nggak berpikir macem-macem, pastinya suami juga kerjanya tenang, anak-anak juga hepi. Betul?

Emak-emak perlu mempunyai kesibukan yang bermanfaat agar dirinya selalu upgrade. Karena di tangan emak-emaklah wajah generasi penerus Indonesia. Emak adalah guru pertama bagi anak. Pastinya pengen dong punya anak yang cerdas dan memiliki masa depan cerah. Nah, nggak perlu susu mahal kok untuk mewujudkan itu. Cukup kita sebagai ibu yang memberikan contoh baik pada anak, menanamkan jiwa untuk pantang menyerah namun juga pasrah pada takdir Allah SWT. Terus upgrade ilmu parenting kita, upgrade hobi yang kita percayai akan menambah penghasilan keluarga. Nggak perlu ngoyo, karena memang tugas utama kita adalah mengurus rumah tangga, tapi tetap ada target untuk setiap usaha kita. Tetap produktif agar selalu berpikiran positif, cheers!


Emak manajer keuangan keluarga. Melek investasi yuk...

Nah, selain emak-emak harus punya usaha aka kesibukan, emak-emak juga harus melek investasi. At least harus getol menabung. Soalnya emak kan manajer keuangan keluarga. Gimana caranya uang dari suami cukup buat kebutuhan sehari plus menabung. Metode 'amplop' alias mengalokasikan semua dana pada pos-posnya di awal bulan wajib dilakukan semua emak. Hal ini selain mengontrol pengeluaran juga 'memaksa' emak untuk rutin menabung. Kalau menabung sudah menjadi habit, maka investasi bukan hal yang sulit lagi.

Investasi buat emak ada macam-macam. Yang paling populer di kalangan para emak dari zaman dahulu adalah investasi emas. Tapi seiring waktu, investasi semakin terdiversifikasi. Emak-emak mulai banyak melirik jenis investasi dengan return yang lebih tinggi, walaupun resikonya juga tinggi. Investasi saham mulai diminati kaum hawa. Apalagi IDX juga lagi getol promo program Yuk Nabung Saham kan. Beberapa teman yang sudah mulai investasi saham mengatakan bahwa trading saham bisa menjadi kesibukan yang menghasilkan. Suaminya bahkan yang menyuruh mereka untuk menggeluti dunia saham. Ada yang menjadikannya sebagai usaha sampingan, yaitu trading for living (jual beli saham untuk penghasilan sehari-hari) maupun sekedar investasi (value investor). Menjadikan saham sebagai usaha sampingan tentu sudah harus siap dengan resiko rugi. Analisa teknikal harus dimantapkan.  Namun, menjadi value investor juga bukan tanpa resiko. Kenali dengan baik fundamental perusahaan agar investasinya menuai hasil yang maksimal.

Tentang investasi saham baca: Investasi di Pasar Modal seperti Merawat Tanaman

Investasi akhirat alias sedekahnya jangan lupa ^_^

Berbagai pilihan usaha dan investasi bisa emak pilih sesuai dengan minat dan bakatnya. Yang pasti, usahakan menyisihkan pendapatan dengan rutin untuk investasi. Supaya harta keluarga lebih barokah, jangan lupa investasi akhirat alias sedekah. Kalau hartanya sudah mencapai nisab, dahulukan bayar zakatnya. In sya Allah kedepannya rezeki tambah lancar. Aamiin.

Kalo katanya, happy tummy happy kids, maka have money happy mom. Xixixi.